BUMN, Si Pengecewa ?

Pernah di kecewakan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) nggak ? Lampu yang dikelola PLN Byar pet, BBM yang dikelola oleh PERTAMINA harus ngantri berjam-jam ? Saya di Banjarmasin, tidak akan menjawab ‘pernah’ tapi jawabannya ‘sering’ bahkan seperti nya rutin. Ya.. Rutin, jangan heran setiap bulan ada saja lampu mati dan BBM ngantri.
Beberapa alasan PLN dan PERTAMINA dengan ketidaknyamanan pelayanannya kadang masuk akal, seperti pengaruh alam, luas nya area yang mereka layani, hingga kekurangan tenaga dan daya. Namun alasan itu lama kelamaan sepertinya tanpa solusi, yang membuat semua alasan itu tidak masuk akal. Misal, apakah tidak ada sepeserpun dari uang yang dibayar masyarakat untuk pengembangan pelayanan ? Lalu uang pembayaran langganan listrik dan BBM itu buat apa saja ? Apakah untuk membayar gaji pegawai BUMN nya saja. Karena orang pada tahu, gaji pegawai BUMN dikenal tinggi.
Di Kalimantan Selatan, dua BUMN ini, jika di ibaratkan orang sakit dikategorikan dalam tahap kronis, tak peduli kapan pun, daerah manapun, dua BUMN berebut paling cepat buat kecewa masyarakat.

Ditulis dengan WordPress untuk Blackberry

Penyerapan Anggaran APBN 2011 dan Pengentasan Kemiskinan

Beberapa hari yang lalu, satuan kerja kami mendapat surat dari Kanwil Ditjen Perbendaharaan Propinsi Kalimantan Selatan, yang berisi tentang percepatan penyerapan anggaran untuk beberapa kegiatan yang  diharapkan bisa mendukung pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan. Intinya, dalam hal ini satuan kerja  (satker) diharapkan mempercepat pembayaran beberapa kegiatan yang menggunakan dana APBN Tahun 2011.

Penyerapan anggaran diharapkan bisa menyalurkan dana APBN ke masyarakat luas. Misalnya, percepatan pembangunan beberapa proyek, dengan harapan uangnya bisa cepat sampai ke para tukang. Biaya-biaya lain yang mempercepat penyebaran uang di masyarakat. Selain itu juga termasuk percepatan beberapa tunjangan termasuk tunjangan profesi guru.

Continue reading “Penyerapan Anggaran APBN 2011 dan Pengentasan Kemiskinan”

Jalan-Jalan Ke Kapuas.. :)

Hari Minggu yang lalu, kami sekeluarga berkunjung ke Kapuas. Sebuah kabupaten di propinsi Kalimantan Tengah, sekitar 30 Km dari kota Banjarmasin. Perjalanan kami kali ini ditemani oleh gerimis hujan sepanjang jalan. Tipologi tanah rawa nan lembek membuat jalan antara Banjarmasin – Kapuas, seolah ‘tak pernah rata’, penuh lubang, bak superball di arena lintas balap grass track /motor cross. Sayang tak ada teknologi tepat guna atau mungkin tidak diterapkan, yang bisa membuat jalan berkontur tanah rawa mulus nan rata.

Berkunjung ke tempat saudara di desa Mambulau, Kapuas biasanya pembicaraan tak lepas  dari masalah perkayuan. Ketatnya pengawasan pemerintah terhadap penebangan hutan, pengolahan serta penjualannya, selalu jadi topik hangat pembicaraan. Mata pencaharian sebagai pengumpul dan penjual kayu olahan, sebenarnya sudah lama bahkan turun temurun  menjadi budaya lokal masyarakat di sekitar aliran sungai-sungai besar di Kalimantan. Transformasi budaya mata pencaharian setempat/lokal, sepertinya harus menjadi perhatian pemerintah setempat.

Memang hutan pulau Kalimantan,yang konon menjadi paru-paru dunia ini mulai menipis dari segi kuantitas. Pengawasan pihak berwenang, patut diacungi jempol. Petugas tak mau diajak kompromi, jadi cerita hangat. Walau demikian, dengan beberapa triks tertentu, beberapa masih bisa lolos dari pengawasan ketat. Di satu sisi pelestarian hutan Kalimantan memang perlu dijaga, namun diperhatikan juga perubahannya di masyarakat. Hutan Kalimantan lah selama ini menjadi sumber mata pencaharian. Tentang solusinya, pemerintah setempat lah yang harus menjawabnya.