Review : Ratusan Guru di Kalsel ‘tidak utuh’ menerima Tunjangan Profesi

Judul postingan ini menjadi berita hangat di harian lokal Banjarmasin Post selama tiga hari berturut-turut. Terakhir berita nya pun sampai ke telinga Wakil Menteri Pendidikan Fasli Jalal. Menurut pengakuan para guru, ada yang cuma mendapat 11 bulan, 10 bulan dan 8 bulan. Setahu saya malah ada yang tidak dapat sama sekali selama setahun, baik guru di bawah naungan Diknas maupun Kementerian Agama. Di berita Banjarmasin Post hari Kamis (17/03/2011) judul headline nya malah makin memilukan “Guru Agama Paling Menderita”. Pejabat Diknas dan Kemenag yang diklarifikasi, menyebutkan salah satu sebabnya adalah kekurangan anggaran untuk Tunjangan Profesi Guru. Dan, salah satu counter attack (serangan balik) dari pemberitaan ini, biasanya selalu mempertanyakan profesionalisme guru. Namun, biasalah ini kan Indonesia.

Pertanyaannya, Kenapa tidak dibayarkan secara utuh ? Kenapa anggarannya kurang ? Mari kita bahas satu persatu :

Lanjutkan membaca “Review : Ratusan Guru di Kalsel ‘tidak utuh’ menerima Tunjangan Profesi”

Mutu dan Profesionalisme Guru -Refleksi Hardiknas-

Guru Oemar Bakrie

Secara umum tugas pokok guru adalah menyusun program pengajaran, menyajikan program pengajaran, evaluasi hasil belajar, analisis hasil evaluasi belajar, serta menyusun program perbaikan dan pengajaran terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan tugas itu, maka guru mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas sebagai tenaga pengajar atau pembimbing yang dibebankan kepadanya sesuai dengan tujuan pendidikan. Dengan tanggung jawabnya itu guru mempunyai wewenang untuk memilih dan menentukan motede kerja untuk mencapai hasil pendidikan yang optimal dalam melaksanakan tugas pekerjaannya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kode etik guru.

Dalam dunia pendidikan, keberadaan tugas, tanggung jawab dan wewenang guru merupakan salah satu faktor yang ‎sangat signifikan karena guru merupakan kunci keberhasilan pendidikan dimana inti dari kegiatan ‎pendidikan tersebut adalah belajar mengajar yang memerlukan peran dari guru di dalamnya. Guru ‎lebih sering diposisikan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap anak dalam ‎proses pendidikan secara global, sesudah orang tua dari anak didik.  Oleh karena itu, hampir ‎semua perilaku guru akan menjadi panutan bagi anak didiknya.  Posisi ini tentunya menempatkan ‎guru sebagai sebuah profesi yang sangat strategis dalam pembentukan dan pemberdayaan ‎penerus bangsa serta memiliki peran dan fungsi yang tetap signifikan di masa yang akan datang.

Lanjutkan membaca “Mutu dan Profesionalisme Guru -Refleksi Hardiknas-“