Vredeburg, Benteng Perdamaian.

Benteng Vredeburg
Benteng Vredeburg, 31 Desember 2013

Yogyakarta, salah satu kota yang menjadi saksi hebatnya perjuangan bangsa ini melawan tirani bangsa asing. Bangunan-bangunan nan eksotik menjadi saksi, sumber sejarah, serta inspirasi tentang perasaan kebangsaan. Salah satu bangunan sejarah dan sekaligus jadi wisata menarik di Yogyakarta adalah Benteng Vredeburg. Benteng ini berdiri terkait erat dengan munculnya Kesultanan Yogyakarta, berdasarkan Perjanjian Giyanti, tanggal 13 Februari 1755 yang berhasil menyelesaikan perseteruan antara Susuhunan Pakubuwono III dengan Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I kelak) adalah merupakan hasil politik Belanda yang selalu ingin ikut campur urusan dalam negeri raja-raja Jawa waktu itu. Berdasarkan perjanjian ini, wilayah Mataram dibagi dua:  Sunan Pakubuwana III berkedudukan di Surakarta, sementara  Pangeran Mangkubumi  menjadi Sultan Hamengkubuwana I yang berkedudukan di Yogyakarta.

Benteng ini mulai dibangun tahun 1760 oleh Sultan Hamengkubowono I atas permintaan Belanda, dengan sangat sederhana berbentuk bujur sangkar. Di keempat sudutnya dibuat tempat penjagaan yang disebut seleka atau bastion. Pada tahun 1765 diusulkan kepada sultan agar benteng diperkuat menjadi bangunan yang lebih permanen agar lebih menjamin kemanan. Usul tersebut dikabulkan, selanjutnya pembangunan benteng dikerjakan di bawah pengawasan seorang Belanda ahli ilmu bangunan yang bernama Ir. Frans Haak.

Usul Gubernur W.H. Van Ossenberg agar bangunan benteng lebih disempurnakan, dilaksanakan tahun 1767. Periode ini merupakan periode penyempurnaan Benteng yang lebih terarah pada satu bentuk benteng pertahanan.Menurut rencana pembangunan tersebut akan diselesaikan tahun itu juga. Akan tetapi dalam kenyataannya proses pembangunan tersebut berjalan sangat lambat dan baru selesai tahun 1787. Hal ini terjadi karena pada masa tersebut Sultan yang bersedia mengadakan bahan dan tenaga dalam pembangunan benteng, sedang disibukkan dengan pembangunan Kraton Yogyakarta. Setelah selesai bangunan benteng yang telah disempurnakan tersebut diberi nama Rustenburg yang berarti ‘Benteng Peristirahatan’.

Pada tahun 1867 di Yogyakarta terjadi gempa bumi yang dahsyat sehingga banyak merobohkan beberapa bangunan besar seperti Gedung Residen (yang dibangun tahun 1824), Tugu Pal Putih, dan Benteng Rustenburg serta bangunan-bangunan yang lain. Bangunan-bangunan tersebut segera dibangun kembali. Benteng Rustenburg segera diadakan pembenahan di beberapa bagian bangunan yang rusak. Setelah selesai bangunan benteng yang semula bernama Rustenburg diganti menjadi Vredeburg yang berarti ‘Benteng Perdamaian’. Nama ini diambil sebagai manifestasi hubungan antara Kasultanan Yogyakarta dengan pihak Belanda yang tidak saling menyerang waktu itu.

Bentuk benteng tetap seperti awal mula dibangun, yaitu bujur sangkar. Pada keempat sudutnya dibangun ruang penjagaan yang disebut seleka atau bastion. Pintu gerbang benteng menghadap ke barat dengan dikelilingi oleh parit. Di dalamnya terdapat bangunan-bangunan rumah perwira, asrama prajurit, gudang logistik, gudang mesiu, rumah sakit prajurit dan rumah residen. Di Benteng Vredeburg ditempati sekitar 500 orang prajurit, termasuk petugas medis dan paramedis. Disamping itu pada masa pemerintahan Hindia Belanda digunakan sebagai tempat perlindungan para residen yang sedang bertugas di Yogyakarta. Hal itu sangat dimungkinkan karena kantor residen yang berada berseberangan dengan letak Benteng Vredeburg. Sejalan dengan perkembangan politik yang berjadi di Indonesia dari waktu ke waktu, maka terjadi pula perubahan atas status kepemilikan dan fungsi bangunan Benteng Vredeburg.

Status tanah benteng tetap milik kasultanan, tetapi secara de facto dipegang oleh pemerintah Belanda. Karena kuatnya pengaruh Belanda maka pihak kasultanan tidak dapat berbuat banyak dalam mengatasi masalah penguasaan atas benteng. Sampai akhirnya benteng dikuasai bala Tentara Jepang tahun 1942 setelah Belanda menyerah kepada Jepang dengan ditandai dengan Perjanjian Kalijati bulan Maret 1942 di Jawa Barat.

Sumber Tulisan : http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Benteng_Vredeburg

Memadukan IPS Sejarah dengan Mata Pelajaran IPS Lainnya (1)

Pada awal bulan April ini, materi pelajaran IPS Terpadu kelas VII sudah masuk pada pembahasan materi IPS Sejarah, yaitu materi Perkembangan Agama Hindu dan Budha di Nusantara. Konsep pembelajaran IPS Terpadu pada satuan pendidikan MTs/SMP yang ‘harus’ memadukan semua mata pelajaran IPS dalam setiap pembelajaran nya di kelas, membuat guru harus jeli materi mana saja yang bisa untuk dipadukan. Sayangnya, konsep memadukan ini belum berkibar kencang di kalangan guru IPS, ketika membuat perangkat pembelajaran, sering kali melupakan konsep memadukannya. Itu pun lebih untung menurut saya, daripada tidak membuat sama sekali. Hehehehe

Lanjutkan membaca “Memadukan IPS Sejarah dengan Mata Pelajaran IPS Lainnya (1)”

Sejarah Pornografi : Dari Pompei Hingga Era Tera Patrick.. :)

Pengantar :

Pornografi menjadi masalah isu nasional di Indonesia, banyak dikeluhkan oleh berbagai pihak terutama di kalangan dunia  pendidikan. Sebarannya di internet tak bisa dibendung oleh pemerintah, janji Kementrian Informasi dan komunikasi untuk memblokir situs-situs porno jadi isapan jempol belaka. Isu-isu video porno lokal, sampai Miyabi hingga yang terbaru Tera Patrick seharusnya menjadi perhatian pihak yang terkait. Termasuk undang-undang nya pun sudah dibuat. Lalu apa yang dimaksud dengan pronografi ? Menurut KBBI Online, pornografi setidaknya mempunyai arti :

  1. Pengambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi.
  2. Bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi dalam seks.

Dalam sejarah nya di Indonesia, Serat Centini yang dibuat pada masa raja Pakubuwono IV, syarat dengan simbol-simbol seksualitas kehidupan masyarakat Jawa pada masa itu. Serat ini digubah pada sekitar 1815 oleh tiga orang pujangga istana Kraton Surakarta ini berupa tembang, dan masalah seksual ternyata menjadi tema sentral yang diungkap secara verbal dan terbuka, tanpa tedeng aling-aling alias blak-blakan. Namun sebenarnya Serat Centini lebih berbentuk sebagai karya seni dari pada sebuah bentuk pornografi, hal inilah yang membuat kitab ini menjadi mashur.

Bagaimana perkembangan pornografi di dunia, berikut kutipan tulisan yang saya kutip langsung dari http://bootingskoblog.wordpress.com/2010/01/26/serba-pertama-seputar-pornografi/


Lanjutkan membaca “Sejarah Pornografi : Dari Pompei Hingga Era Tera Patrick.. :)”

Pembelajaran IPS di Pendidikan Dasar dan Tantangannya (1)

Ilmu Pengetahuan Sosial, biasa disingkat IPS, adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kajian ilmu dengan cakupan yang luas dalam berbagai lapangan meliputi perilaku dan interaksi manusia di masa kini dan masa lalu. IPS tidak memusatkan diri pada satu topik secara mendalam melainkan memberikan tinjauan yang luas terhadap masyarakat.

Karena sifatnya yang berupa penyederhanaan dari ilmu-ilmu sosial, di Indonesia IPS dijadikan sebagai mata pelajaran untuk siswa sekolah dasar (SD/MI), dan sekolah menengah tingkat pertama (SMP/MTs). Sedangkan untuk tingkat di atasnya, mulai dari sekolah menengah tingkat atas (SMA/MA) dan perguruan tinggi, ilmu sosial dipelajari berdasarkan cabang-cabang dalam ilmu tersebut khususnya jurusan atau fakultas yang memfokuskan diri dalam mempelajari hal tersebut.

Lanjutkan membaca “Pembelajaran IPS di Pendidikan Dasar dan Tantangannya (1)”