Try Out dan Ujian Nasional

Foto Pribadi (2012)Menjelang Ujian Nasional yang serentak di laksanakan pada bulan  April 2012, sekolah/madrasah di beberapa propinsi mengadakan ujicoba atau try out ujian nasional. Tujuan dan manfaat try out diharapkan memberikan gambaran sementara tentang kemampuan siswa menjawab soal ujian nasional. Ya, hanya sekedar untuk mengetahui kemampuan siswa menjawab benar soal yang diberikan. Setara kah, soal try out dan Ujian Nasional ? Harus ada pihak berwenang yang menjawab. Soal Ujian nasional tentunya soal-soal yang sudah di uji tentang bentuk dan kualitas soalnya, entah kalau soal try out. Siapa pula yang membuat soal try out tersebut, tidak diketahui secara pasti.

Anehnya, dalam beberapa tahun belakangan antara hasil try out dan Ujian Nasional, sangat bertolak belakang. Hasil try out jebloknya ‘nggak ketulungan’. Hasil try out ujian nasional tahun 2012 di propinsi Kalimantan Selatan untuk tingkat SMA/MA yang dikatagorikan lulus hanya 17%. Bahkan jurusan Bahasa yang tidak lulus 100%. Gejala ini biasanya, akan bertolak belakang dengan hasil Ujian Nasional sebenarnya. Kita tunggu saja nantinya Ujian Nasional 2012 di bulan April 2012. Jika tahun lalu, hasil jeblok di try out namun tidak untuk UN, biasanya UN siswa-siswa lancar jaya menjawab soal UN. Entah, siapa yang hebat, siswanya, gurunya atau system pelaksanaan ujian nasionalnya.

Apakah try out justru dijadikan pemetaan pendidikan sebenarnya ? Bisa jadi. Hasil UN setiap tahun yang kredibilitasnya diragukan, karena ditengarai masih banyak kecurangan. Sudah jadi rahasia umum, bahwa setiap tahun beredar isu kebocoran soal. Entah siapa pula yang membocorkan, memang dilematis evaluasi pendidikan di Indonesia. Jika diserahkan bulat-bulat kepada sekolah/madrasah untuk meluluskan siswa, dikhawatirkan kualitas tak akan terjaga. Sedang jika lulusan berdasarkan hasil UN saja, sepertinya pemerintah tidak mampu menjaga kemajuan dan pemerataan pendidikan di Indonesia. Kalau digabung keduanya, bisa jadi, namun tetap hasil nya penuh rekayasa.  Mulai dari rekayasa nilai raport dengan KKM tinggi sekenanya hingga nilai setinggi-tingginya di Ujian Sekolah.

Bagaimana solusinya ? Pertama, Pengawasan, buat skala kualitas sekolah/madrasah lengkap dengan sanksinya.  Skala kualitas mulai dari  rekrutmen guru hingga pelaksanaan pembelajaran. Perkuat pengawasan dengan penilaian kinerja guru yang berkesinambungan, kalau perlu setiap minggu terus diawasi. Kedua, perkuat tugas guru remedial dan pengayaan. Guru kerja keras menuntaskan pembelajaran dengan remedial jika siswa tak mampu menguasai pelajaran dan pengayaan bagi siswa yang sudah memenuhi ketuntasan. Dan yang terpenting, awasi mereka ! Jika instansi vertical di atas sekolah/madrasah kepayahan mengawasi guru, suruh Kepala Sekolah/madrasah berbuat tega. Laporkan guru yang tak becus mengajar dan sesukanya. Ketiga, saya lebih suka jika evaluasi dilaksanakan oleh pendidikan yang di atasnya. Artinya, jika mau masuk SMP/MTs maka dibuat Ujian Masuk SMP/MTs, demikian seterusnya. Jika tidak lulus, maka dikembalikan ke sekolah asalnya. Keempat, kita perlu usaha sadar untuk meningkatkan pendidikan di semua elemen pendidikan di negeri tercinta ini. Berbuat terbaik, tidak dengan usaha instan, setengah hati, kecurangan, kepentingan sesaat, kepentingan citra, dan usaha-usaha lain, yang membuat tujuan mulia pendidikan terdistorsi oleh hal-hal yang justru membuat rendahnya  kualitas pendidikan kita.

Wallahualam …

KKM dan Ujian Nasional 2012

Foto Pribadi

Akhir semester biasanya ditandai dengan proses penilaian untuk mengisi raport peserta didik. Semester pertama tahun ajaran 2011-2012 terasa agak beda dengan semester sebelumnya. Yang baru adalah peenetuan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang tahun ini kayaknya agak tinggi dibnding tahun-tahun sebelumnya. Entah kenapa, beberapa hari yang lalu di ibukota kabupaten semua kepala sekolah dan madrasah dikumpulkan untuk sosialisasi Ujian Nasional 2012. Menurut pesan yang dibawa oleh Kepala Madrasah, bahwa nilai raport per semester termasuk yang menentukan kelulusan. Saya tidak mendalami maksud dari nilai raport per semester menentukan kelulusan. Selain mata pelajaran yang saya ajarkan tidak termasuk yang di UN-kan dan juga saya bukan guru kelas IX yang bisaanya menilai UAS mata pelajaran IPS. Terlebih saya termasuk penentang UN dan praktek kotor nya.

Pesan lainnya, bahwa peserta didik bisa lulus UN dengan nilai 4 (empat) jika nilai di raport minimal 7. Jika ada praktek kotor lagi dengan soal yang ‘bocor’, sebenarnya tak jadi masalah. Mau nilai raport berapa saja tentu akan lulus juga. Sepertinya untuk mengantisipasi nilai UN rendah, akibat bocoran soal tidak ada lagi, maka salah satu jalannya adalah dengan mendongkrak nilai rapaort. Caranya tidak lain dan tidak bukan adalah meningkatkan KKM. Sekolah/madrasah dengan input peserta didik yang rendah, sarana sekolah yang tidak memadai, daerah pinggiran/pedesaan/terpencil, guru-guru mata pelajaran yang dianggap sulit seperti Matematika, bahasa Inggris tentu akan teriak. Gakkkkkk Bisa, atau pakai kalimatnya Sule,.. oooooo tidak bisaa.. 🙂

Di sekolah/madrasah yang maju, tentu tak masalah tinggal genjot peserta didik untuk masuk kelas tambahan atau di ajak ke bimbingan belajar baik yang dikelola oleh gurunya sendiri atau masuk bimbingan belajar di luar sekolah. Yang  di pedesaan tinggal pasrah. Dalam sebuah rapat di madrasah, saya menantang guru matematika bisa nggak menjamin siswa paling tidak bisa menjawab soal  sebanyak 20 soal saja, dengan asumsi siswa dapat nilai 5. Dari tiga orang guru matematika, tidak ada yang berani satu pun. Maksud saya, jika siswa bisa menjawab separo soal UN dan dapat nilai 5, maka KKM tak harus 7, tapi karena tidak ada menjamin dan diperkirakan dengan hal itu banyak yang tidak lulus. Tak ada jalan lain selain meningkatkan KKM.

Usaha maksimal guru, saya kira jadi solusi. Guru harus bersusah payah menuntaskan ketuntasan belajar, genjot siswa bisa menguasai materi secara maksimal. Sebab pada nilai harian, tugas dan UTS lah nilai itu bisa di rubah-rubah dengan program remedial. Kalau sudah Ujian Semester nggak ada lagi dong remedial. Namun, ada juga guru yang cerita, “sudah saya remedial pak, saya beri materi tambahan, saya ulang sekali lagi, tetap pak, nggak nyambung, malah ada nilainya yang tambah jatuh”.. dengar cerita beginian saya malah tertawa. Habis ya, gimana lagi. Atau kalo ketemu yang beginian, di bina di sekolah favorit dan berlabel internasional, bisa ngurus nggak ya ..

Jika tak punya cara lagi, dan anda (guru) tak tega meninggal kelas peserta didik,.. solusi terakhir adalah system nilai konversi. Suatu system menaikkan nilai yang adil, karena semua siswa mendapat kenaikan nilai atau konversi. Untuk hal ini, bisa lihat postingan saya di sini

Semoga bermanfaat dan menurut anda ?