Ujian Nasional dan Budaya Malu

Pelaksanaan Ujian Nasional tahun 2013 terutama untuk tingkat SMA dan sederajat diluar perkiraan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendiknas atau mendikbud sih), yang diluar perkiraan adalah acak kadut dan carut marut pelaksanaan UN. Yang paling parah soal ujian nasional tidak terdistribusi ke beberapa daerah, hingga terjadi penundaaan UN di 11 propinsi. Nah lo, ini kejadian pertama di Indonesia. Ujian Nasional di tunda karena soalnya belum sampai ke daerah. Sang Menteri ngeles nya macam-macam, mulai menyederhanakan masalah hingga menyalahkan percetakan. Kita lihat bentuk pertanggung jawaban M. Nuh (sang menteri), kalau di akhir cerita UN nanti masih cengengesan seolah tanpa beban. Nih lagi, contoh pemimpin-pemimpin dengan ciri khas Indonesia sekali.

Di tingkat nasional, kita tak memiliki budaya sementereng Bushidonya Jepang, atau paling tidak budayanya Siri orang Makasar, atau kalau maksa nih, budaya urang Banjar (Kalimantan Selatan) ‘Dalas hangit, waja sampai kaputing’ (biar kebakar, seluruh wajan) dalam kepemimpinan kita. Budaya malu hampir hilang di wajah-wajah sebagian pemimpin kita. Seandainya Mendiknas kita itu di Jepang, minimal mengundurkan diri, maksimal karena malunya tak tertahankan (karena pertama kali terjadi) otaknya sudah berhamburan di depan kantor Kementerian Pendidikan Nasional karena sang menteri terjun bebas dari atap kantor Kemendiknas atau jantungnya tersayat-sayat dengan samurai di kamar pribadi sang menteri. Tapi semua tak bakal terjadi, selain dalam Islam di haramkan untuk bunuh diri, sedangkan mengundurkan diri tak jadi budaya dalam kehidupan bangsa tercinta ini. Biarlah semalu-malu nya dihujat habis-habisan di social media, sepertinya akan enak aja bilang ’emang gue pikirin’.

Ujian Nasional sejak dulu di kritisi oleh berbagai pihak, terutama fungsi UN sebagai penentu kelulusan. Jika fungsi sebagai pemetaan hasil pendidikan sih sebenarnya boleh saja. Pengetahuan sebenar-benarnya kondisi penguasaan kompetensi siswa adalah guru. Biarlah itu jadi ranah tingkat atas pengelola bangsa ini, saya guru kecil seperti ini mana di dengar. Orang berdarah-darah, hingga mati pun di negeri ini kadang tidak di dengar. Kepentingan sekelompok orang kadang jadi segala-galanya.

Budaya malu seharusnya juga punya sekolah-sekolah penyelenggara UN yang tidak jujur, malunya kepada siapa ? Minimal malu kepada saya .. hehehe. Curang kan perbuatan yang tidak baik. Tapi kan untuk kebaikan siswa untuk lulus ? Lalu apa gunanya belajar PKn, Budi pekerti, Akidah Akhlak .. mana kejujurannya. Lalu itu kan hanya membantu ! Membantu boleh saja, lalu kalau sengaja memberikan kunci dan siswa tahu kita membantu, apa jadinya !

Tapi sekali lagi sudah lah, yang pertama kalo curang juga .. saya nggak ikut-ikutan, karena mata pelajaran saya gak ikut Ujian Nasional, jadi ya santai-santai aja.

Entah.

Formula UN 2011, Memaksa Sekolah dengan KKM Tinggi

Formula baru UN 2011 memberi pembobotan 40% untuk nilai sekolah dan 60% untuk nilai UN. Hal ini sepertinya untuk mengakomodasi pendapat dan kritik dari berbagai kalangan, bahwa kelulusan siswa tidak saja hanya berdasarkan nilai UN saja. Nilai sekolah diperoleh dari gabungan antara nilai ujian sekolah dan nilai rata-rata rapor: semester 1, 2, 3, 4, dan 5 untuk SMP/MTs dan SMPLB; serta semester 3, 4, dan 5 SMA/MA danSMK. Pembobotannya: 60% untuk nilai ujian sekolah dan 40% untuk nilai rata-rata rapor. Nilai gabungan ini selanjutnya disebut nilai sekolah/madrasah (NS/M), yang ikut diperhitungkan dalam penentuan kelulusan UN.

Lanjutkan membaca “Formula UN 2011, Memaksa Sekolah dengan KKM Tinggi”

Ujian Nasional, Buat Apa ?

Saya seorang guru yang pemalas menghapal Undang-undang dan peraturan-peraturan. Entah UU apa atau peraturan menteri mana, selain kebanyakan, yang diingat hanya poin-poin tertentu saja yang dianggap penting. Termasuk yang berkaitan dengan Ujian Nasional. Sejatinya Ujian Nasional (UN) adalah proses penilaian. Suatu proses penilaian hasil belajar yang telah ditetapkan oleh kurikulum. Penilaian hasil belajar ini, wajibnya ada pada guru. Lalu, jika wajibnya ada pada guru, kenapa di perlukan Ujian Nasional ? Kan cukup guru saja yang melakukan penilaian, hemat biaya lagi.

Lanjutkan membaca “Ujian Nasional, Buat Apa ?”

Membantu Siswa dalam UN 2011, secara berjenjang dan terstruktur ?

Kepengen membantu siswa dalam UN 2011 nanti ? yah.. pasti terbersit bagaimana caranya membantu siswa supaya lulus semua. Saya yakin semua insan pendidikan pasti ingin membantu, termasuk saya juga. Terserahlah, mau bantu do’a, semangat, dorongan, memberi tips dan trik menghadapi UN, membantu memberi pelajaran tambahan, dan bantuan-bantuan lainnya.

Lalu,.. bagaiman dengan membantu memberikan jawaban ? Ini termasuk kategori sebagai membocorkan rahasia negara, dan tindak pidana. Jika pengen juga kebelet membocorkan soalnya, kenapa juga tidak dibuat secara berjenjang dan berstruktur. Halah.. bingung kan ? Kenapa juga membocorkan soal koq dibuat berjenjang dan berstruktur. Ilustrasi sederhananya begini, jika kepengen membantu juga, pada UN 2011 ini siswa dibantu menjawab 30 soal saja, tahun depan dibantu lagi cuman 25 soal, tahun depan lagi kurang lagi menjadi cuma 20 soal dan seterusnya hingga tak perlu dibantu lagi. Jadi, kalau kepengen curang juga, ada usaha sedikit demi sedikit menurunkan tingkat kecurangannya.. hahahahahahahaahahah..

Bagaimana dengan Ujian Sekolah ? Dibantu juga bos .. jangan tidak dibantu, jangan-jangan nanti yang lulus malah nol persen. Hahahaha,.. Gunakan sistem konversi, supaya lebih adil dalam penilaiannya, sudah pernah saya tulis di blog ini bagaimana menggunakan sistem konversi KLIK DISINI. Gunakan juga sistem berjenjang jika tahun ini memberi nilai terendah siswa dengan nilai 8, berani nggak tahun depan cuman dengan nilai 7, dan seterusnya. Dari situ kan bisa dilihat progres-nya, kalau setiap tahun tidak ada peningkatan, lalu apa gunanya selama ini pendidikan di Indonesia.

Udah ah.. semakin lama postingan ini semakin ngawur, disindir dimana-mana tetap aja bocornya dimana-mana..